BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trombositopenia adalah suatu kekurangan trombosit,
yang merupakan dari pembekuan darah pada orang normal jumlah trombosit didalam
sirkulasi berkisar antara 150.00-450.00/ul, rata – rata berumur 7-10 hari kira
– kira 1/3 dari jumlah trombosit didalam sirkulasi darah mengalami penghancuran
didalam limpa oleh karena itu untuk mempertahankan jumlah trombosit
supaya tetap normal di produksi150.000-450000 sel
trombosit perhari. Jika jumlah trombosit kurang dari30.000/mL, bisa
terjadi perdarahan abnormal meskipun biasanya gangguan
baru timbul jika jumlah trombosit mencapai
kurang dari10.000/mL. (Sudoyo, dkk ,2006). Trombositopenia dapat
bersifat kongenital atau di dapat, danterjadi akibat penurunan
reproduksi trombosit, seperti pada anemiaaplastik,
mielofibrosis, terapi radiasi atau leukimia, peningkatan
penghancuran trombosit, seperti pada infeksi tertentu ; toksisitas obat, atau koagulasi
intravaskuler, diseminasi (DIC); distribusi
abnormal atausekuestrasi pada limpa ; atau trombositopenia
dilusional setelah hemoragiatau tranfusi sel darah merah. (Sandara, 2003).
Trombosit dapat
juga dihancurkan oleh produksi anti bodi yangdiinduksi oleh obat seperti yang
ditemukan pada quidinin dan emas. Atauoleh autoantibodi(anti bodi yang bekerja
melawan jaringannya sendiri).Antibodi-antibodi ini ditemukan pada penyakit
seperti lupus eritematosus,leukimia limfositik kronis, limfoma tertentu, dan
purpura trombositopenik idiopatik (ITP). ITP terutama ditemukan pada
perempuan muda, bermanifestasisebagai trombositopenia yang mengancam jiwa
dengan jumlah trombosityang sering kurang dari 10.000/mm3. antibodi Ig G yang
ditemukan padamembran trombosit dan meningkatnya pembuangan dan
penghancurantrombosit oleh sistem makrofag. (Sylvia & Wilson, 2006).
Trombositopenia
berat dapat mengakibatkan kmatian akibatkehilangan darah atau perdarahan
dalam organ-organ vital. Insiden untuk ITP adalah 50-100 juta kasus baru
setiap tahun. Dengan anak melingkupiseparuh daripada bilangan
tersebut. Kejadian atau insiden immuneTrombositopenia
Purpura diperkirakan 5 kasus per 100.000 anak-ana dan2 kasus per 100.000 orang
dewasa. Tetapi data tersebut dari populasi atauperkumpulan berbasis pendidikan
yang sangat luas. Kebanyakan kesusutan immune trombositopenia purpura (ITP)
yang pada umumnya terjadi pada anak–anak kurang perhatian medis.
Immunetrombositopenia purpura (ITP) dilaporkan 9,5 per 100.000 orang di
mirland.(Emedicine, 2008).
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
definisi ITP?
2.
Bagaimana
etiologi dari ITP?
3.
Apa
saja jenis – jenis ITP?
4.
Bagaimana
epidemologi dari ITP?
5.
Bagaimana
patologi dan patofisiologi dari ITP?
6.
Bagaimana manifestasi klinik dari
ITP?
7.
Apa saja
pemeriksaan penunjang dari ITP?
8.
Bagaimana penatalaksaan klinis dari
ITP?
9.
Bagaimana
komplikasi dari ITP?
10.
Bagaimana
prognosis dari ITP?
11.
Bagaimana
asuhan keperawatan pada klien dengan ITP?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui
cara memberikan dan membuat asuhan keperawatan
pada pasien ITP dengan baik dan benar.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui
Definisi Dari ITP.
2. Mengetahui
Etiologi Dari ITP.
3. Mengetahui
Jenis Dari ITP.
4. Mengetahui
Epidemiologi Dari ITP.
5. Mengetahui
Patofisiologi Dari ITP.
6. Mengetahui
Manifestasi Klinis Dari ITP.
7. Mengetahui
Pemeriksaan Penunjang ITP.
8. Mengetahui
Penatalaksanaan Medis ITP.
9. Mengetahui Komplikasi Dari ITP.
10. Mengetahui
Prognosis Dari ITP.
11. Mengetahui
Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan ITP.
1.4 Manfaat
1.4.1. Manfaat teoritis
1. Bagi penulis, makalah ini dapat
dijadikan sebagai sarana untuk mendalami pemahaman tentang konsep penyakit yang disebabkan
karena ITP.
2. Bagi pembaca, khususnya mahasiswa
keperawatan dapat mengerti tentang konsep penyakit yang disebabkan karena ITP yang sesuai dengan standart
kesehatan demi meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai
referensi untuk penelitian yang lebih lanjut.
1.4.2. Manfaat praktis
Mahasiswa
keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien ITP dengan baik.
BAB 2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
ITP merupakan singkatan dari Idiopatik Trombositopenia
Purpura. Idiopatik artinya penyebabnya tidak diketahui. Trombositopenia artinya
berkurangnya jumlah trombosit dalam darah atau darah tidak mempunyai platelet
yang cukup. Purpura artinya perdarahan kecil yang ada di dalam kulit, membrane
mukosa atau permukaan serosa (Dorland, 1998).
ITP adalah suatu penyakit perdarahan yang didapat
sebagai akibat dari penghancuran trombosit yang berlebihan (Suraatmaja, 2000).
ITP adalah suatu keadaan perdarahan yang disifatkan
oleh timbulnya petekia atau ekimosis di kulit
ataupun pada selaput lendir dan adakalanya terjadi pada berbagai
jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena sebab yang tidak diketahui
(FK UI, 1985).
Trombositopenia adalah suatu
kekurangan trombosit, yang merupakan bagian dari pembekuan
darah. ITP adalah jenis trombositopenia berat yang dapat mengancam kehidupan
dengan jumlah trombosit < 10.000 mm3 yang ditandai dengan mudahnya
timbul memar serta perdarahan subkutaneus yang multiple. Biasanya penderita
menampakkan bercak-bercak kecil berwarnan ungu. Karena jumlah trombosit sangat
rendah, maka pembentukan bekuan tidak memadai dan konstriksi pembuluh yang
terlukan tidak adekuat.
ITP adalah syndrome yang di
dalamnya terdapat ppenurunan jumlah trombosit yang bersirkulasi dalam keadaan
sum-sum normal. ITP adalah suatu keadaan perdarahan berupa petekie atau ekimosis di kulit /
selaput lendir dan berbagai jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena
sebab yang tidak diketahui. (ITP pada anak tersering terjadi pada umur 2 – 8
tahun), lebih sering terjadi pada wanita. (Kapita selekta kedokteran jilid
2). ITP adalah salah satu gangguan perdarahan didapat yang paling umum terjadi.(Perawatan
Pediatri Edisi 3). ITP adalah syndrome yang di
dalamnya terdapat penurunan jumlah trombosit yang bersirkulasi dalam keadaan
sum-sum normal.
Idiopatik
trombositopenia purpura (ITP) merupakan suatu kelainan yang berupa gangguan
autoimun yang mengakibatkan trombositopenia oleh karena adanya penghancuran
trombosit secara dini dalam sistem retikuloendotel akibat adanya autoantibody
terhadap trombosit yang biasanya berasal dari Immunoglobulin G. Adanya
trombositopenia pada ITP ini akan megakibatkan gangguan pada sistem hemostasis
karena trombosit bersama dengan sistem vaskular faktor koagulasi darah terlibat
secara bersamaan dalam mempertahankan hemostasis normal.
2.2
Etiologi
Penyebab dari ITP tidak diketahui secara pasti,
mekanisme yang terjadi melalui pembentukan antibodi yang menyerang sel
trombosit, sehingga sel trombosit mati.(Imran, 2008). Penyakit ini diduga
melibatkan reaksi autoimun, dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang
trombositnya sendiri. Dalam kondisi normal, antibodi adalah respons tubuh yang
sehat terhadap bakteri atau virus yang masuk kedalam tubuh. Tetapi untuk
penderita ITP, antibodinya bahkan menyerang sel-sel keping darah tubuhnya
sendiri. (Family Doctor, 2006). Meskipun pembentukan trombosit sumsum
tulang meningkat, persediaan trombosit yang ada tetap tidak dapat memenuhi
kebutuhan tubuh. Pada sebagian besar kasus, diduga bahwa ITP disebabkan
oleh sistem imun tubuh.
Secara normal sistem imun membuat antibodi untuk
melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Pada ITP, sistem imun melawan
platelet dalam tubuh sendiri. Alasan sistem imun menyerang platelet dalam tubuh
masih belum diketahui. (ana information center,2008). ITP kemungkinan juga
disebabkan oleh hipersplenisme, infeksi virus, intoksikasi makanan atau obat
atau bahan kimia, pengaruh fisis (radiasi, panas), kekurangan factor pematangan
(misalnya malnutrisi), koagulasi intravascular diseminata (KID),
autoimun. Berdasarkan etiologi, ITP dibagi menjadi 2 yaitu
primer (idiopatik) dan sekunder. Berdasarkan penyakit dibedakan tipe akut
bila kejadiannya kurang atau sama dengan 6 bulan (umumnya terjadi pada
anak-anak) dan kronik bila lebih dari 6 bulan (umunnya terjadi pada orang
dewasa). (ana information center, 2008) Selain itu, ITP juga terjadi pada
pengidap HIV. Sedangkan obat-obatan seperti heparin, minuman keras, quinidine,
sulfonamides juga boleh menyebabkan Rombositopenia. Biasanya tanda-tanda
penyakit dan faktor-faktor yang berkatan dengan penyakit ini adalah seperti
yang berikut : purpura, pendarahan haid darah yang banyak dan tempo lama,
pendarahan dalam lubang hidung, pendarahan rahang gigi, immunisasi virus yang
terkini, penyakit virus yang terkini dan calar atau lebam.
ITP penyebab pasti belum diketahui
(idiopatik) tetapi kemungkinan akibat dari:
1.
Hipersplenisme,
2.
Infeksi virus,
3.
Intoksikasi
makanan/obat (asetosal para amino salisilat (PAS). Fenil butazon, diamokkina,
sedormid).
4.
Bahan kimia,
5.
Pengaruh
fisi (radiasi, panas),
6.
Kekurangan
factor pematangan (malnutrisi),
7.
Koagulasi
intra vascular diseminata CKID,
8.
Autoimnue.
![]() |
2.3 Jenis ITP
A.
Akut.
1.
Awalnya
dijumpai trombositopenia pada anak.
2.
Jumlah
trombosit kembali normal dalam 6 bulan setelah diagnosis (remisi spontan).
3.
Tidak
dijumpai kekambuhan berikutnya.
B.
Kronik
1. Trombositopenia berlangsung lebih dari 6 bulan setelah diagnosis.
2. Awitan tersembunyi dan berbahaya.
3. Jumlah trombosit tetap di bawah normal selama penyakit.
4. Bentuk ini terutama pada orang dewasa.
C.
Kambuhan
1. Mula-mula terjadi trombositopenia.
2. Relaps berulang.
3. Jumlah trombosit kembali normal diantara waktu kambuh.
2.4 Epidemologi
Ada dua tipe ITP berdasarkan kalangan penderita. Tipe pertama umumnya
menyerang kalangan anak-anak, sedangkan tipe lainnya menyerang orang dewasa.
Anak-anak berusia 2 hingga 4 tahun yang umumnya menderita penyakit ini.
Sedangkan ITP untuk orang dewasa, sebagian besar dialami oleh wanita muda, tapi
dapat pula terjadi pada siapa saja. ITP bukanlah penyakit keturunan. (Family
Doctor, 2006).
ITP juga dapat dibagi menjadi dua, yakni akut ITP dan kronik ITP. Batasan
yang dipakai adalah waktu jika dibawah 6 bulan disebut akut ITP dan diatas 6
bulan disebut kronik ITP. Akut ITP sering terjadi pada anak-anak sedangkan
kronik ITP sering terjadi pada dewasa. (Imran, 2008)
Tabel Perbedaan ITP akut dengan ITP
kronik
(Bakta, 2006; Mehta, et. al, 2006)
ITP akut
|
ITP kronik
|
|
Awal penyakit
|
2-6 tahun
|
20-40 tahun
|
Rasio L:P
|
1:1
|
1:2-3
|
Trombosit
|
<20.000/mL
|
30.000-100.000/mL
|
Lama penyakit
|
2-6 minggu
|
Beberapa tahun
|
Perdarahan
|
Berulang
|
Beberapa hari/minggu
|
2.5 Patologi dan
Patofisiologi
A.
Patologi
1. ITP akut :
a. Proses
alergi terhadap trombosit, megakariosit dan terhadap pembuluh darah.
b. Didapat
antiplatelet aglutinin da atau lysin, akan tetapi sukar memperlihatkan
aglutininl/lysin tersebut.
2. ITP menahun
Pengaruh
hormonal memegang peranan pada tahap ini terutama terhadap terjadinya purpura
dan trombositopenia sebelum menstruasi
B. Patofisiologi
Diatas telah di singgung bahwa trombosit dapat dihancurkan oleh pembentukan
antibodi yang diakibatkan oleh obat (seperti yang ditemukan pada kinidin dan
senyawa emas) atau oleh autoantibodi (antibodi yang bekerja melawan jaringnnya
sendiri). Antibodi
tersebut menyerang trombosit sehingga lama hidup trombosit diperpendek. Seperti
kita ketahui bahwa gangguan –gangguan autoimun yang bergantung pada antibodi
manusia, palling sering menyerang unsur-unsur darah, terutama trombosit dan sel
darah merah. Hal ini terkait dengan penyakit ITP, yang memiliki molekul-molekul
IgG reaktif dalam sirkulasi dengan trombosit hospes.
Meskipun terikat pada permuakaan trombosit, antibodi ini tidak menyebabkan
lokalisasi protein komplemen atau lisis trombosit dalam sirkulasi bebas. Namun,
trombosit yang mengandung molekul-molekul IgG lebih mudah dihilangkan dan
dihancurkan oleh makrofag yang membawa reseptor membran untuk IgG dalam limpa
dan hati. Manifestasi
utama dari ITP dengan trombosit kurang dari 30.000/mm3 adalah tumbuhnya
petechiae. Petechiae ini dapat muncul karena adanya antibodi IgG yang ditemukan
pada membran trombosit yang akan mengakibatkan gangguan agregasi trombosit dan
meningkatkan pembuangan serta penghancuran trombosit oleh sistem makrofag.
Agregaasi trombosit yang terganggu ini akan menyebabkan penyumbatan
kapiler-kapiler darah yang kecil. Pada proses ini dinding kapiler dirusak
sehingga timbul perdarahan dalam jaringan.
Bukti yang mendukung mekanisme trombositopenia ini disimpulkan berdasarkan
pemeriksaan pada penderita ITP dan orang-orang percobaan yang menunjukkan
kekurangan trombosit berat tetapi singkat, setelah menerima serum ITP. Trombositopenia
sementara, yang ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan ITP, juga
sesuai dengan kerusakan yang disebabkan oleh IgG, karena masuknya antibodi melalui
plasenta. ITP dapat juga timbul setelah infeksi, khususnya pada masa
kanak-kanak, tetapi sering timbul tanpa peristiwa pendahuluan dan biasanya
mereda setelah beberapa hari atau beberapa minggu.
2.6 Manifestasi Klinik
A.
ITP akut :
1. Hanya 16%
yang betul-betul idiopatik.
2. Perdarahan
dapat didahului oleh infeksi, pemberian obat-obatan atau menarche.
3. Pada
permulaan perdarahan sangat hebat selain terjadi trombositopenia rusaknya
megakariosit, juga terjadi perubahan pembuluh darah.
4. Sering
terjadi perdarahan GIT, tuba falopi dan peritoneum.
5. Kelenjar
lymphe, lien dan hepar jarang membesar
B.
ITP menahun :
1. Biasanya
pada dewasa, terjadi beberapabulan sampai beberapa tahun, kadang menetap.
2. Permulaan
tidak dapat ditentukan, ada riwayat perdarahan menahun, menstruasi yang lama.
3. Perdarahan
relatif lebih ringan.
4. Jumlah
trombosit 30.000-80.000/mm3.
5. Biasanya
tanpa anemi, lekopeni dan splenomegali.
6. Penghancuran
trombosit lebih dari normal.
7. Sering
terjadi relaps dan remisi yang berulang-ulang
C.
ITP recurrent
1. Diantaranya
episode perdarahan, trombosit normal dan tak ada purpura/petechiae dan masa
hidup trombosit norma.
2. Hasil
pengobatan dengn kortikosteroid baik.
3. Kadang tanpa
pengobatan, dapat sembuh sendiri.
4. Remisi
berkisar bebrapa minggu sam pai 6 bulan
D.
ITP siklik
Menstruasi
hebat pada wanita. Secara umum, gambaran klinis ITP adalah :
1.
Adanya petechiae, echymose atau perdarahan .
2.
Trombositopenia.
3.
Megakariosit dalam sumsum tulang normal / bertambah
dengan morfologi abnormal.
4.
Splenomegali atau tidak
2.7
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat
dilakukan adalah :
1.
Pada
pemeriksaan darah lengkap. Pada pemeriksaan ini ditemukan bahwa:
a. Hb sedikit
berkurang, eritrosit normositer, bila anemi berat hypochrome mycrosyter.
b. Lekosit meninggi
pada fase perdarahan dengan dominasi PMN.
c. Pada fase
perdarahan, jumlah trombosit rendah dan bentuknya abnormal.
d. Lymphositosis
dan eosinofilia terutama pada anak
2.
Pemeriksaan
darah tepi.
Hematokrit
normal atau sedikit berkurang
3.
Aspirasi
sumsum tulang
Jumlah megakaryosit normal atau bertambah, kadang mudah sekali morfologi
megakaryosit abnormal (ukuran sangat besar, inti nonboluted, sitoplasma
berfakuola dan sedikit atau tanpa granula).
Hitung (perkiraan jumlah) trombosit dan evaluasi hapusan darah tepi
merupakan pemeriksaan laboratorium pertama yang terpentong. Karena dengan cara
ini dapat ditentukan dengan cepat adanya trombositopenia dan kadang-kadang
dapat ditentukan penyebabnya.
2.8
Penatalaksaan Klinis
A. ITP Akut
1. Ringan: observasi tanpa pengobatan → sembuh spontan.
2. Bila setelah 2 minggu tanpa pengobatan jumlah trombosit belum naik, maka
berikan kortikosteroid.
3. Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid, maka berikan immunoglobulin
per IV.
4. Bila keadaan gawat, maka berikan transfuse suspensi trombosit.
B. ITP Menahun
1. Kortikosteroid diberikan selama 5 bulan.
Misal: prednisone 2 – 5 mg/kgBB/hari peroral. Bila tidak berespon terhadap
kortikosteroid berikan immunoglobulin (IV).
2. Imunosupressan: 6 – merkaptopurin 2,5 – 5 mg/kgBB/hari peroral.
a. Azatioprin 2 – 4 mg/kgBB/hari per oral.
b. Siklofosfamid 2 mg/kgBB/hari per oral.
c. Splenektomi.
Indikasi:
a. Resisten terhadap pemberian kortikosteroid dan imunosupresif selama 2 – 3
bulan.
b. Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian kortikosteroid
saja dengan gambaran klinis sedang sampai berat.
c. Penderita yang menunjukkan respon terhadap kortikosteroid namun perlu dosis
tinggi untuk mempertahankan klinis yang baik tanpa perdarahan.
Kontra indikasi:
Anak usia sebelum 2 tahun: fungsi limpa terhadap infeksi belum dapat
diambil alih oleh alat tubuh yang lain (hati, kelenjar getah bening dan thymus)
2.9
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin
terjadi, antara lain :
1. Hemorrhages
2. Penurunan
kesadaran
3. Splenomegali
2.10
Prognosis
1. Pada umumnya
baik. Pada anak kadang terjadi remisi lengkap tanpa pengobatan.
2. ± 90%
penderita ITP mengalami remisi setelah mendapat pengobatan selama 3 minggu-3
bulan dan tidak timbul lagi gejala.
3. 10% jadi ITP
menahun dan < 1% meninggal.
4. Pada dewasa
sering relaps dalam waktu 4-15 tahun.
5. Prognosa
lebih buruk pada wanita hamil dan bila ada komplikasi, terutama perdarahan otak
yang dapat menyebabkan kematian.
BAB 3
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1 Asuhan
Keperawatan
A. Pengkajian
1. Asimtomatik sampai jumlah trombosit
menurun di bawah 20.000.
2. Tanda-tanda perdarahan.
a. Petekie terjadi spontan.
b. Ekimosis terjadi pada daerah trauma
minor.
c. Perdarahan dari mukosa gusi, hidung,
saluran pernafasan.
d. Menoragie.
e. Hematuria.
f. Perdarahan gastrointestinal.
3. Perdarahan berlebih setelah prosedur
bedah.
4. Aktivitas / istirahat.
Gejala :
a. keletihan, kelemahan, malaise umum.
b. Toleransi terhadap latihan rendah.
Tanda :
a. Takikardia / takipnea, dispnea pada
beraktivitas / istirahat.
b. Kelemahan otot dan penurunan
kekuatan.
5. Sirkulasi.
Gejala :
a. Riwayat kehilangan darah kronis,
misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat.
b. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda :
a. TD: peningkatan sistolik dengan
diastolic stabil.
6. Integritas ego.
Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan
pengobatan: penolakan transfuse darah.
Tanda : DEPRESI.
7. Eliminasi.
Gejala : Hematemesis, feses dengan darah segar, melena,
diare, konstipasi.
Tanda : distensi abdomen.
8. Makanan / cairan.
Gejala :
a. Penurunan masukan diet.
b. mual dan muntah.
Tanda : turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang
elastisitas.
9. Neurosensori.
Gejala :
a. Sakit kepala, pusing.
b. kelemahan, penurunan penglihatan.
Tanda : E
a. Epistaksis.M
b. Mental: tak mampu berespons (lambat
dan dangkal).
10. Nyeri / kenyamanan.
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala.
Tanda : takipnea, dispnea.
11. Pernafasan.
Gejala : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, dispnea.
12. Keamanan
Gejala : penyembuhan luka buruk sering infeksi, transfuse
darah sebelumnya.
Tanda : petekie, ekimosis.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pemenuhan nutrisi dan
cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
2. Perubahan perfusi jaringan
berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman
oksigen dan nutrisi ke sel.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen
berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan.
5. Kurang pengetahuan pada keluarga
tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi
informasi.
C. Intervensi Keperawatan
1. Gangguan pemenuhan nutrisi dan
cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
a. Tujuan: Menghilangkan mual dan
muntah
b. Kriteria hasil: Menunjukkan berat
badan stabil
c. Intervensi keperawatan:
1. Berikan nutrisi yang adekuat secara
kualitas maupun kuantitas.
Rasional : mencukupi kebutuhan kalori setiap
hari.
2. Berikan makanan dalam porsi kecil
tapi sering.
Rasional : porsi lebih kecil dapat
meningkatkan masukan yang sesuai dengan kalori.
3. Pantau pemasukan makanan dan timbang
berat badan setiap hari.
Rasional : anoreksia dan kelemahan dapat
mengakibatkan penurunan berat badan dan malnutrisi yang serius.
4. Lakukan konsultasi dengan ahli diet.
Rasional : sangat bermanfaat dalam
perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
5. Libatkan keluarga pasien dalam perencanaan
makan sesuai dengan indikasi.
Rasional : meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada
keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.
2. Perubahan perfusi jaringan
berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman
oksigen dan nutrisi ke sel.
a. Tujuan:
1. Tekanan darah normal.
2. Pangisian kapiler baik.
b. Kriteria hasil: Menunjukkan
perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
c. Intervensi keperawatan:
1. Awasi TTV, kaji pengisian kapiler.
Rasional : memberikan informasi tentang
derajat/ keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan
intervensi.
2. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai
toleransi.
Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan
memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler.
3. Kaji untuk respon verbal melambat,
mudah terangasang.
Rasional : dapat mengindikasikan gangguan
fungsi serebral karena hipoksia.
4. Awasi upaya parnafasan, auskultasi
bunyi nafas.
Rasional : dispne karena regangan jantung
lama / peningkatan kompensasi curah jantung.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen
berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah.
a. Tujuan: Mengurangi distress
pernafasan.
b. Kriteria hasil: Mempertahankan pola
pernafasan normal / efektif
c. Intervensi keperawatan:
1. Kaji / awasi frekuensi pernafasan,
kedalaman dan irama.
Rasional : perubahan (seperti takipnea, dispnea, penggunaan otot aksesoris)
dapat menindikasikan berlanjutnya keterlibatan / pengaruh pernafasan yang
membutuhkan upaya intervensi.
2. Tempatkan pasien pada posisi yang
nyaman.
Rasional : memaksimalkan ekspansi paru,
menurunkan kerja pernafasan dan menurunkan resiko aspirasi.
3. Beri posisi dan Bantu ubah posisi
secara periodic.
Rasional : meningkatkan areasi semua
segmen paru dan mobilisasikan sekresi.
4. Bantu dengan teknik nafas dalam.
Rasional : membantu meningkatkan
difusi gas dan ekspansi jalan nafas kecil.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan.
a. Tujuan: Meningkatkan partisipasi
dalam aktivitas.
b. Kriteria hasil: Menunjukkan
peningkatan toleransi aktivitas.
c. Intervensi keperawatan:
1. Kaji kemampuan pasien untuk
melakukan aktivitas normal, catat laporan kelemahan, keletihan.
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.
2. Awasi TD, nadi, pernafasan.
Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk
emmbawa jumlah oksigen ke jaringan.
3. Berikan lingkungan tenang.
Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh.
4. Ubah posisi pasien dengan perlahan
dan pantau terhadap pusing.
Rasional : hipotensi postural / hipoksin
serebral menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cedera.
5. Kurang pengetahuan pada keluarga
tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi
informasi.
a. Tujuan: Pemahaman dan penerimaan
terhadap program pengobatan yang diresepkan.
b. Kriteria hasil:
1. Menyatakan pemahaman proses
penyakit.
2. Faham akan prosedur dagnostik dan
rencana pengobatan.
c. Intervensi keperawatan:
1. Berikan informasi tntang ITP.
Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya ITP.
Rasional : memberikan dasar pengetahuan
sehingga keluarga / pasien dapat membuat pilihan yang tepat.
2. Tinjau tujuan dan persiapan untuk
pemeriksaan diagnostic.
Rasional : ketidak tahuan meningkatkan
stress.
3. Jelaskan bahwa darah yang diambil
untuk pemeriksaan laboratorium tidak akan memperburuk ITP.
Rasional : merupakan kekwatiran yang tidak
diungkapkan yang dapat memperkuat ansietas pasien / keluarga.
D. Implementasi Keperawatan
1. Memberikan seka pada klien
2. Mendemonstrasikan pola hidup bersih
yang benar seperti mandi 3 x sehari
3. Mengajarkan klien dalam melakukan aktifitas
4. Untuk relaksasi mengajarkan klien
untuk menarik secara dalam dan mengeluarkansecara perlahan dari mulut
5. Memberikan salep dan balutan steril
E. Evaluasi Keperawatan
1. Menunjukkan berat badan stabil
2. Menunjukkan perbaikan perfusi yang
dibuktikan dengan TTV stabil.
3. Mempertahankan pola pernafasan
normal / efektif
4. Menunjukkan peningkatan toleransi
aktivitas.
5. Menyatakan pemahaman proses
penyakit.
6. Faham akan prosedur dagnostik dan
rencana pengobatan
BAB
4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Trombositopenia menggambarkan individu
yag mengalami ataupada resiko tinggi untuk mengalami
insufisiensi trombosit sirkulasi.Penurunan ini dapat
disebabkan oleh produksi trombosit yang menurun,distribusi trombosit yang
berubah, pengrusakan trombosit, atau dilusivaskuler.Gejala dan tanda pada
pasien yang menderita penyakit ITPadalah Hidung mengeluarkan darah atau
pendarahan pada gusi Ada darahpada urin dan feses Beberapa macam pendarahan
yang sukar dihentikandapat menjadi tanda ITP. Termasuk menstruasi yang
berkepanjangan padawanita. Pendarahan pada otak jarang terjadi, dan gejala
pendarahan padaotak dapat menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Jumlah
platelet yangrendah akan menyebabkan nyeri, fatigue (kelelahan), sulit
berkonsentrasi,atau gejala yang lain. Tindakan keperawatan yang utama adalah
denganmencegah atau mengatasi perdarahan yang terjadi.
4.2 Saran
4.2.1
Bagi Tenaga Kesehatan
Untuk
tenaga kesehatan terutama perawat diharapkan bisa mengerti dan memahami tentang
pengertian, penyebab,
pencegahan dan pegobatan dari ITP agar saat menerapkan pada pasien
tidak terjadi suatu kesalahan yang menyebabkan pasien tambah parah atau bahkan
bisa mengalami kematian karena kesalahan dalam melakukan asuhan
keperawatan.
4.2.2 Bagi Pasien dan Keluarga
Bagi
pasien diharapkan mengerti tentang penyebab,
pengobatan dan pencegahan dari ITP, agar pada saat terjadi ITP dapat melakukan
pencegah dini sebelum dilakukan asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
——–. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. FKUI: Media
Aesculapius.
Dorland, W.A Newma. 2006. Kamus
Kedokteran Dorland, Edisi 29.Jakarta: EGC.
_____,2014. Idiopatik Thrombositopenic
Purpura.en.wikipedia.org/wiki/Idiopathic_
thrombocytopenic_purpura.Diakses
tanggal 19 November 2014.
_____, 2014. Diseases Condition Idiopatic.www.mayoclinic.org/
diseases-conditions / idiopathic.../con-20034239. Diakses tanggal 19 November
2014.
_____,2013. Idiopatic Purpura.www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000535.htm. diakses
tanggal 19 November 2014.
_____, 2013. Imune Trombositopenia. www.merckmanuals.com/immune_ thrombocytopenia_itp.html.
diakses tanggal 19 November 2014.
Natha Mara. 2014. Itp.majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/.../pdf.
Dakses tanggal 19 November 2014.
_____, 2014.
Penanganan Idiopatik Trombositopenia Purpura.growupclinic.com/.../ penanganan-terkini-idiopatik-trombositopenia-purpura-itp/
_____, 2013. Purpura trombositopenik idiopatik
doktersehat.com/purpura-trombositopenik-idiopatik-itp/ 2013. Diakses tanggal
19 November 2014.


The best titanium flat iron models and price. - TiGBet
BalasHapusShop for the best titanium flat iron models and titanium grades price. Find titanium for sale the best ceramic vs titanium flat iron prices at TiGBet. Find the best mens titanium wedding bands prices at TitaniumArt. Discover the best prices at titanium knee replacement