BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian
Leukemia
Leukemia
berasal dari bahasa yunani yaitu leukos (putih) dan haima (darah). Leukemia
adalah jenis kanker yang mempengaruhi sumsum tulang dan jaringan getah bening.
Semua kanker bermula di sel, yang membuat darah dan jaringan lainnya. Biasanya,
sel-sel akan tumbuh dan membelah diri untuk membentuk sel-sel baru yang
dibutuhkan tubuh. Saat sel-sel semakin tua, sel-sel tersebut akan mati dan
sel-sel baru akan menggantikannya.
Tetapi terkadang proses yang teratur
ini berjalan menyimpang, sel-sel baru ini terbentuk meski tubuh tidak
membutuhkannya, dan sel-sel lama tidak mati seperti seharusnya. Kejanggalan ini
disebut leukemia, di mana sumsum tulang menghasilkan sel-sel darah putih secara
abnormal yang akhirnya mendesak sel-sel lain.
Pengertian lain menjelaskan,
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam
sumsum tulang dan limfa. Leukemia mempunyai sifat khusus yaitu proliferasi.
Proliferasi merupakan tidak teratur atau
akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen sumsum
tulang normal. Selain terjadi di dalam sumsum tulang, proliferasi juga
terjadi di hati, limpa, dan nodus limfatikus. Terjadi invasi organ
nonhematologis seperti meninges, traktus gastrointestinal, ginjal, dan kulit.
Leukemia tergolong akut bila ada
proliferasi blastosit (sel darah yang masih muda) dari sumsum tulang. Leukemia akut merupakan keganasan primer sumsum tulang
yang berakibat terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal
(blastosit) yang disertai dengan penyebaran organ-organ lain.
Leukemia tergolong kronis bila
ditemukan ekspansi dan akumulasi dari sel tua dan sel muda. Selain akut dan
kronik, ada juga leukemia kongenital yaitu leukemia yang ditemukan pada bayi umur 4 minggu atau bayi yang lebih
muda.
B. Etiologi
Leukemia
1.
Genetik
Adanya Penyimpangan Kromosom. Insidensi leukemia
meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada sindroma Down,
sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, Sindroma Wiskott-Aldrich, Sindroma Ellis van
Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy Sindrome, Sindroma von Reckinghausen,
dan Neurofibromatosis.
Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan
adanya perubahan informasi gen, misalnya pada kromosom 21 atau C-group Trisomy,
atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti pada aneuploidy .
a.
Saudara kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik
dimana kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini
berlaku juga pada keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi.
b.
Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom,
misalnya : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan
insiden yang meningkat pada leukemia akut, khususnya ANLL.
2.
Virus.
Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan
leukemia pada hewan termasuk primata. Penelitian pada manusia menemukan adanya
RNA dependent DNA polimerase pada sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada
sel-sel normal dan enzim ini berasal dari virus tipe C yang merupakan virus RNA
yang menyebabkan leukemia pada hewan. Salah satu virus yang terbukti dapat
menyebabkan leukemia pada manusia adalah Human T-Cell Leukemia . Jenis leukemia
yang ditimbulkan adalah Acute T- Cell Leukemia .
3.
Bahan Kimia dan Obat-obatan
Paparan
kronis dari bahan kimia ( misal : benzen ) dihubungkan dengan peningkatan
insidensi leukemia akut, misalnya pada tukang sepatu yang sering terpapar
benzen. Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan dengan resiko tinggi dari
AML, antara lain : produk – produk minyak, cat, ethylene oxide, herbisida,
pestisida, dan ladang elektromagnetik.
Sedangkan
dari obat-obatan, obat anti neoplastik ( misalnya : alkilator dan inhibitor
topoisomere II) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan AML.
Kloramfenikol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan kegagalan
sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML.
4.
Radiasi
Hubungan
yang erat antara radiasi dan leukemia ( ANLL ) ditemukan pada pasien-pasien
anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada kasus lain :
seperti peningkatan insidensi leukemia pada penduduk Jepang yang selamat dari
ledakan bom atom.
Peningkatan
resiko leukemia ditemui juga pada pasien yang mendapat terapi radiasi,
misalnya: pembesaran thymic, para pekerja yang terekspos radiasi dan para
radiologis .
5.
Leukemia Sekunder
Leukemia yang
terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain disebut Secondary Acute
Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia. Termasuk diantaranya penyakit
Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker payudara.
Hal ini
disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk golongan imunosupresif
selain menyebabkan menurunkan antibody dapat
menyebabkan kerusakan DNA
C. Patofisiologi Leukemia
Manifestasi
klinis penderita leukemia akut disebabkan adanya penggantian sel pada sumsum
tulang oleh sel leukemik , menyebabkan gangguan produksi sel darah merah.
Depresi produksi platelet yang menyebabkan purpura dan kecenderungan terjadinya
perdarahan .
Kegagalan mekanisme pertahanan
selular karena penggantian sel darah putih oleh sel leukemik, yang menyebabkan
tingginya kemungkinan untuk infeksi . Infiltrasi sel-sel leukemik ke
organ-organ vital seperti liver dan limpa oleh sel-sel leukemik yang dapat menyebabkan
pembesaran dari organ-organ tersebut. Sedangkan pada penderita Leukemia itu
sendiri disebabkan oleh :
1.
Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang
malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit
dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia.
2.
Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan
menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi
3.
Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone
marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan
metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan lekosit,
eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan.
4.
Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat
terjadinya pembesaran hati, limfe,nodus limfe, dan nyeri persendian.
D. Klasifikasi Leukemia
1.
Leukemia Mielogenus Akut (LMA)
LMA mengenai sel sistem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke semua
sel mieloid, monosit, granulosit (basofil, netrofil, eosinofil), eritrosit, dan
trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena. Insidensi meningkat sesuai
dengan bertambahnya usia. Merupakan
leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
2.
Leukemia Mielogenus Kronis (LMK)
LMK juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel sistem mieloid. Namun lebih
banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan.
LMK jarang menyerang individu dibawah 20
tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran LMA tetapi dengan tanda dan gejala
yang lebih ringan. Pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun,
peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, dan limpa membesar.
3.
Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 – 70 tahun.
Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala. Penyakit baru terdiagnosa
saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit.
4.
Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada
anak-anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak insiden usia 4
tahun, setelah usia 15 tahun. LLA jarang terjadi. Limfosit immatur
berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga
mengganggu perkembangan sel normal.
E.
Manifestasi
Klinis
Manifestasi klinik yang sering
dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut :
1.
Pilek tidak sembuh-sembuh & sakit kepala
2.
Pucat, lesu, mudah terstimulasi, merasa lemah atau
letih
3.
Demam, keringat malam dan anorexia
4.
Berat badan menurun
5.
Ptechiae, memar tanpa sebab, mudah berdarah dan lebam
(gusi berdarah, bercak keunguan di kulit, atau bintik-bintik merah kecil di
bawah kulit)
6.
Nyeri pada tulang dan persendian
7.
Nyeri abdomen, Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di
perut (akibat pembesaran limpa).
F. Komplikasi
1.
Nyeri tulang (terutama pada tulang belakang atau
tulang rusuk)
2.
Pengeroposan tulang sehingga tulang mudah patah.
3.
Anemia
4.
Infeksi bakteri berulang
5.
Gagal ginjal
G. Penatalaksanaan
Medis
Protokol
pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada
anak. Proses induksi remisi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi,
konsolidasi, dan rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu)
anak menerima berbagai agens kemoterapeutik untuk menimbulkan remisi. Periode
intensif diperpanjang 2 sampai 3 minggu selama fase konsolidasi untuk
memberantas keterlibatan sistem saraf pusat dan organ vital lain. Terapi
rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis untuk memperpanjang
remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison
(antiinflamasi), vinkristin (antineoplastik), asparaginase (menurunkan kadar
asparagin (asam amino untuk pertumbuhan tumor), metotreksat (antimetabolit),
merkaptopurin, sitarabin (menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik
akut), alopurinol, siklofosfamid (antitumor kuat), dan daunorubisin (menghambat
pembelahan sel selama pengobatan leukemia akut).
H. Terapi
Pengobatan
leukemia ditentukan berdasarkan klasifikasi prognosis dan penyakit penyerta,
antara lain :.
1.
Radioterapi dan Kemoterapi, dilakukan ketika sel
leukemia sudah terjadi metastasis. Kemoterapi juga dilakukan pada fase induksi
remisi yang bertujuan mempertahankan remisi selama mungkin.
2.
Terapi modlitas, untuk mencegah komplikasi, karena
adanya pansitopenia, anemia, perdarahan, dan infeksi. Pemberian
antibiotik dan transfusi darah dapat diberikan.
3.
Pencegahan terpaparnya mikroorganisme dengan isolasi.
4.
Transplantasi sumsum tulang, transplantasi sumsum
tulang merupakan alternatif terbaik dalm penanganan leukemia. Terapi ini juga
biasa dilakukan pada pasien dengan limphoma, dan anemia aplastik.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari
proses keperawatan, pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu
penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan
dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa keperawatan.
Pengkajian
pada leukemia meliputi :
1.
Riwayat penyakit
2.
Kaji adanya tanda-tanda anemia :
a.
Pucat
b.
Kelemahan
c.
Sesak
d.
Nafas cepat
3.
Kaji adanya tanda-tanda leukopenia:
a.
Demam
b.
Infeksi
4.
Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia :
a.
Ptechiae
b.
Purpura
c.
Perdarahan membran mukosa
5.
Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola :
a.
Limfadenopati
b.
Hepatomegali
c.
Splenomegali
6.
Kaji adanya :
a.
Hematuria
b.
Hipertensi
c.
Gagal ginjal
d.
Inflamasi disekitar rectal
e.
Nyeri
B. Diagnosa
Keperawatan
1. Resiko
infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh.
2. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia.
3. Resiko
terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah
trombosit.
4. Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
5. Perubahan
membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen
kemoterapi.
6. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise,
mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis.
7. Nyeri yang
berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia.
8. Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi,
imobilitas.
9. Gangguan
citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan.
10. Perubahan
proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak atau kerabat yang menderita
leukemia.
11. Antisipasi
berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan pasien.
C. Intervensi
dan Rasional
1.
Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem
pertahanan tubuh
Tujuan : Agar tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi :
a.
Pantau suhu dengan teliti
Rasional : untuk
mendeteksi kemungkinan infeksi
b.
Tempatkan pasien dalam ruangan khusus
Rasional : untuk
meminimalkan terpaparnya pasien dari sumber infeksi.
c.
Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk
menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
Rasional : untuk
meminimalkan pajanan pada organisme infektif.
d.
Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua
prosedur invasive
Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
e.
Evaluasi keadaan pasien terhadap tempat-tempat
munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah
gigi.
Rasional : untuk
intervensi dini penanganan infeksi
f.
Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan
baik
Rasional : rongga
mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme.
g.
Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : menambah
energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler.
h.
Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Rasional : untuk
mendukung pertahanan alami tubuh.
i.
Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional : diberikan
sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus
2.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
akibat anemia.
Tujuan :
terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi :
a.
Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan
untuk berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari
Rasional : menentukan derajat dan
efek ketidakmampuan
b.
Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa
gangguan.
Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan
regenerasi seluler atau penyambungan jaringan
c.
Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas
yang diinginkan atau dibutuhkan.
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan
membantu pemilihan intervensi.
d.
Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan
ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri.
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri.
Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan
dengan penurunan jumlah trombosit.
e.
Tujuan : klien tidak menunjukkan bukti-bukti
perdarahan
f.
Intervensi :
a.
Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan
khususnya pada daerah ekimosis
g.
Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi
pasien dengan adanya anemia
h.
Cegah ulserasi oral dan rectal
Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk
berdarah
i.
Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional : untuk mencegah perdarahan
j.
Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional : untuk mencegah perdarahan
k.
Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah
menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)
Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam
mengatasi perdarahan
l.
Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional : karena aspirin mempengaruhi fungsi
trombosit
m.
Ajarkan pada keluarga dan pasien untuk mengontrol
perdarahan hidung
Rasional : untuk mencegah perdarahan
3.
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan
dengan mual dan munta
Tujuan :
a.
Tidak terjadi kekurangan volume cairan
b.
Pasien tidak mengalami mual dan muntah
Intervensi :
a.
Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional : untuk mencegah mual dan muntah
b.
Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan
program kemoterapi
Rasional : untuk mencegah episode berulang
Rasional : untuk mencegah episode berulang
c.
Kaji respon pasien terhadap anti emetic
Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang
secara umum berhasil
d.
Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual
dan muntah
e.
Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi
dengan baik
f.
Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
Rasional : untuk mempertahankan hidrasi
4.
Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang
berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi
Tujuan :
pasien tidak mengalami mukositis oral
Intervensi :
a.
Inspeksi mulut
setiap hari untuk adanya ulkus oral
Rasional : untuk mendapatkan tindakan yang segera
b.
Hindari mengukur suhu oral
Rasional : untuk mencegah trauma
c.
Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung
kapas, atau jari yang dibalut kasa.
Rasional : untuk menghindari trauma
d.
Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan
salin normal atau tanpa larutan bikarbonat
Rasional : untuk menuingkatkan penyembuhan
e.
Gunakan pelembab bibir
Rasional : untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan
mencegah pecah-pecah (fisura)
f.
Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil
Rasional : karena bila digunakan pada faring, dapat
menekan refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat menyebabkan
kejang
g.
Berikan diet cair, lembut dan lunak
Rasional : agar makanan yang masuk dapat ditoleransi
pasien
h.
Inspeksi mulut setiap hari
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
i.
Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan
Rasional : untuk membantu melewati area nyeri
j.
Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida
dan susu magnesia
Rasional : dapat mengiritasi jaringan yang luka dan
dapat membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan memecah protein dan
dapat mengeringkan mukosa
k.
Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan
Rasional : untuk mencegah atau mengatasi mukositis
l.
Berikan analgetik
Rasional :
untuk mengendalikan nyeri
5.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi
dan atau stomatitis
Tujuan :
pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Intervensi :
a.
Dorong keluarga untuk tetap rileks pada saat pasien
makan
Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah
akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi
b.
Izinkan pasien memakan semua makanan yang dapat
ditoleransi, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan
pasien meningkat
Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
c.
Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi,
seperti susu bubuk atau suplemenyang dijual bebas
Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
d.
Izinkan pasien untuk terlibat dalam persiapan dan
pemilihan makanan
Rasional : untuk mendorong agar pasien mau makan
e.
Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi
sering
Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya
ditoleransi dengan baik
f.
Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya
nutrient
Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat
Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat
g.
Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep
Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi
protein kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari
normal
6.
Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari
leukemia
Tujuan : pasien
tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima
pasien
Intervensi :
a.
Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk
mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi
b.
Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal
pemantauan suhu non invasif, alat akses vena
Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman
c.
Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat
kesadaran dan sedasi
Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis.
Waktu pemberian atau obat
d.
Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang
tepat
Rasional : sebagai analgetik tambahan
e.
Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur
Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri
7.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas
Tujuan : pasien
mempertahankan integritas kulit
Intervensi :
a.
Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam
mulut dan daerah perianal
Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi
b.
Ubah posisi dengan sering
Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah
tekanan pada kulit
c.
Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi
kulit
d.
Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi
kanker
Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan
pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen
kemoterapi
e.
Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk
kulit yang kering
Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit
f.
Dorong masukan kalori protein yang adekuat
Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang
negatif
g.
Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang
teradiasi
Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan
8.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau
perubahan cepat pada penampilan
Tujuan :
pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif
Intervensi :
a.
Dorong pasien untuk memilih wig (bagi perempuan) yang
serupa gaya dan warna rambut pasien sebelum rambut mulai rontok
Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian
rambut terhadap kerontokan rambut
b.
Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan
pada sinar matahari, angin atau dingin
Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut
c.
Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu
tetap bersih, pendek dan halus
Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial
d.
Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6
bulan dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda
Rasional : untuk menyiapkan pasien dan keluarga
terhadap perubahan penampilan rambut baru
e.
Dorong hygiene, berdandan, dan alat alat yang sesuai
dengan jenis kelamin , misalnya wig, skraf, topi, tata rias, dan pakaian yang
menarik
Rasional : untuk meningkatkan penampilan
9.
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai
anak atau kerabat yang menderita leukemia
Tujuan : pasien
atau keluarga menunjukkan pengetahuan tentang prosedur diagnostik atau terapi
Intervensi :
a.
Jelaskan alasan setiap prosedur yang akan dilakukan pada
pasien
Rasional : untuk meminimalkan
kekhawatiran yang tidak perlu
b.
Jadwalkan waktu agar keluarga dapat berkumpul tanpa
gangguan dari staff
Rasional : untuk mendorong
komunikasi dan ekspresi perasaan
c.
Bantu keluarga merencanakan masa depan, khususnya dalam
membantu pasien menjalani kehidupan yang normal
Rasional : untuk meningkatkan
perkembangan pasien yang optimal
d.
Dorong keluarga untuk mengespresikan perasaannya
mengenai kehidupan pasien sebelum diagnosa dan prospek pasien untuk bertahan
hidup.
Rasional : memberikan kesempatan
pada keluarga untuk menghadapi rasa takut secara realistis
e.
Diskusikan bersama keluarga bagaimana mereka
memberitahu pasien tentang hasil tindakan dan kebutuhan terhadap pengobatan dan
kemungkinan terapi tambahan
Rasional : untuk mempertahankan
komunikasi yang terbuka dan jujur
f.
Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai
dengan kenyataan yang ada
Rasional : untuk mencegah
bertambahnya rasa khawatiran keluarga
10.
Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan
potensial kehilangan pasien
Tujuan : pasien atau keluarga menerima dan mengatasi kemungkinan kematian
pasien
Intervensi :
a.
Kaji tahapan berduka terhadap pasien dan keluarga
Rasional : pengetahuan tentang
proses berduka memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang
dialami dan dapat membantu pasien dan keluarga lebih efektif menghadapi
kondisinya
b.
Berikan kontak yang konsisten pada keluarga
Rasional : untuk menetapkan hubungan
saling percaya yang mendorong komunikasi
c.
Bantu keluarga merencanakan perawatan pasien, terutama
pada tahap terminal
Rasional : untuk meyakinkan bahwa
harapan mereka diimplementasikan
d.
Fasilitasi pasien untuk mengekspresikan perasaannya
melalui kegiatan yang ingin dilakukan atau yang biasa dilakukan oleh pasien.
Rasional : memperkuat normalitas perasaan
atau reaksi terhadap apa yang dialami.
D. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu
penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan klien. Menurut Wong. D.L, (2004 hal 596-610) hasil yang
diharapkan pada klien dengan leukemia adalah :
1. Pasien
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
2. Berpartisipasi
dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan
peningkatan toleransi aktifitas.
3. Pasien
tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
4. Pasien
menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan muntah
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Leukimia atau kanker darah adalah keganasan
pada organ pembuat sel darah, berupa proliferasi patologis sel hemapoetik muda
yang ditandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah
normal dan disertai infiltrasi keorgan-organ lain.
Sebab-sebab terjadinya leukimia belum
diketahui secara pasti. Ada kemungkinan proses awal leukimia terjadi karena
mutasi salah satu sel yang kemungkinan berproliferasi secara tidak terkendali
sebagai penyebab sering dihubungkannya dengan radiasi, zat kimia, gangguan
imunologik, virus dan faktor genetik.
Sampai saat ini leukimia masih merupakan
penyakit yang angka kematiannya masih tinggi. Adanya mediastinal massa dan
infiltrasi ke CNS merupakan faktor yang memperburuk perjalanan penyakit ini.
B. Saran
Sebagai perawat disarankan untuk memberi
dukungan kepada pasien untuk bertahan hidup, dan menganjurkan pasien maupun
keluarga untuk tidak putus asa terhadap kemungkinan buruk yang akan terjadi,
serta menganjurkan pasien untuk mengikuti terapi yang dianjurkan.
Selain itu juga perawat harus memperhatikan
personal hygiene untuk mengurangi dampak yang terjadi pada saat memberikan
pelayanan kesehatan pada penderita leukemia maupun penderita kanker lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
_____,2013.Jurnal Keperawatan. http://www.scribd.com/doc/129243389/jurnal
keperawatan
Di akses tanggal 3 November 2014.
______,2014.Asuhankeperawakemia.http://www.infokeperawatan.com/artikel/
jurnal-askep-leukemia.html.Diakses tanggal 3 Novembe r 2014.
______,2012.Asuhan
Keperawatan Leukemia.http://askepaskep.com/askep/askep-leukimia.html.Diaksestanggal
3 November 2014.
______,
2013. Leukemiahttp://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/leukemia
/ basics/definition/con-20024914. Diakses tanggal 3
November 2014.
Hello everyone, i'm Linda Harry from United State i was diagnosed with Parkinson Disease for over 6 years which made me loose my job and my relationship with my Fiance after he discovered that i was having Parkinson, he departed from me, and i tried all my best to make him stays, but he neglected me until a friend of mine from UK told me Great healer, who will restore my life back with his powerful healing herbal medicine. then he sent me his email address to contact him- drimolaherbalmademedicine@gmail.com. and i quickly contacted him, and he said my condition can be solved, that he will treat the disease immediately only if i can accept trust on him and accept his terms and condition, i Agreed because i was so much in need of help by all means, so i did all he instructed me to do. And surprisingly after two weeks, He sent me a text, that i should hurry up to the hospital for a checkup, which i truly did, i confirm from my doctor that i am now ( PARKINSON NEGATIVE) my eyes filled with tears and joy, crying heavily because truly the disease deprived me of many things from my life, This is a Miracle, dr imoloa also uses his powerful herbal medicine to cure the following diseases: lupus disease, mouth ulcer, mouth cancer, body pain, fever, hepatitis A.B.C., syphilis, diarrhea, HIV/AIDS, Huntington's Disease, back acne, Chronic renal failure, addison disease, Chronic Pain, Crohn's Disease, Cystic Fibrosis, Fibromyalgia, Inflammatory Bowel Disease, fungal nail disease, Lyme Disease, Celia disease, Lymphoma, Major Depression, Malignant Melanoma, Mania, Melorheostosis, Meniere's Disease, Mucopolysaccharidosis , Multiple Sclerosis, Muscular Dystrophy, Rheumatoid Arthritis, Alzheimer's Disease, parkison disease, vaginal cancer, epilepsy, Anxiety Disorders, Autoimmune Disease, Back Pain, Back Sprain, Bipolar Disorder, Brain Tumour, Malignant, Bruxism, Bulimia, Cervical Disk Disease, cardiovascular disease, Neoplasms, chronic respiratory disease, mental and behavioural disorder, Cystic Fibrosis, Hypertension, Diabetes, asthma, Inflammatory autoimmune-mediated arthritis. chronic kidney disease, inflammatory joint disease, impotence, feta alcohol spectrum, Dysthymic Disorder, Eczema, tuberculosis, Chronic Fatigue Syndrome, constipation, inflammatory bowel disease, bone cancer, lung cancer. contact him on email- drimolaherbalmademedicine@gmail.com. and also on whatssap- +2347081986098
BalasHapus